Mengenal Jenis Majas Dalam Sastra Indonesia

Posted on Desember 21, 2020Komentar Dinonaktifkan pada Mengenal Jenis Majas Dalam Sastra Indonesia

Untuk mengenal jenis majas, bisa dipelajari melalui buku teks bahasa Indonesia. Pembahasan tentang majas, idiom dan peribahasa juga ada dalam buku karya Ainia Prhantini, S.Hum. Termasuk berbagai contoh kalimat majas.

Antara majas, idiom dan peribahasa memiliki perbedaan meskipun sama-sama merupakan gabungan kata khusus. Dalam bahasa Indonesia yang tidak memiliki makna lugas. Karena majas, idiom dan peribahasa memiliki makna khusus.

Pengertian Majas

Majas dalam bahasa Indonesia merupakan kata atau gabungan kata yang memiliki makna berbeda dari aslinya. Majas juga disebut sebagai bahasa kiasan. Dalam bahasa Indonesia ada 20 jenis majas, 7 diantaranya sering dipakai dalam keseharian.

Belajar mengenal jenis majas bisa melalui buku di perpustakaan. Baik perpustakaan digital seperti ipusnas atau situs Academia. Bisa juga melalui berbagai karya fiksi dan percakapan sehari-hari dalam film atau pergaulan.

Mengenal Majas dan Jenis-jenisnya

Berikut 7 jenis majas dan contohnya yang sering dipakai dalam bahasa sehari-hari. Baik sebagai bahasa tulis dalam dialog karya fiksi, maupun dalam percakapan sehari-hari. 

Majas Hiperbola

Salah satu yang paling terkenal adalah majas hiperbola. Majas ini merupakan kata kiasan yang digunakan untuk mengungkap sesuatu secara berlebihan. Seperti hal yang seharusnya biasa saja, menjadi sesuatu yang dibesar-besarkan.

Contohnya adalah kata “mengiris hati” pada kalimat: tangisannya mengiris hati setelah ditinggal ibunya pergi. Pada faktanya, mana ada hati yang teriris dengan suara tangisan? Hati tetap utuh, hanya rasanya yang seperti diiris karena sedih.

Belajar mengenal jenis majas , membuat kita memahami bahwa bukan hanya majas hiperbola yang ada dalam bahasa Indonesia. Selain yang tersebut, bahasa kiasan juga dapat ditemukan dalam beberapa jenis majas lain.

Majas Personifikasi

Merupakan majas yang digunakan untuk mengiaskan benda atau sesuatu dengan manusia. Ciri khas majas ini adalah menggunakan bahasa sifat manusia pada benda-benda tidak bernyawa. Seperti menyentuh, mencium, atau melahap.

Beberapa kalimat berikut merupakan contoh penggunaan majas personifikasi: hujan menari di halaman rumahku. Atau kalimat: lagu-lagunya memanggil jiwa nasionalisme generasi muda. Suaranya hilang ditelan malam.

Jika dipikir rasional, mana ada lagu yang bisa memanggil? Atau malam yang bisa menelan? Atau hujan yang menari? Majas personifikasi membuat perumpamaan seolah benda tak bernyawa itu hidup.

Majas personifikasi banyak digunakan dalam karya sastra fiksi. Baik puisi, cerita pendek, novelet, atau novel. Perumpamaan benda mati yang hidup dengan sifat manusia itu membuat karya lebih dekat dengan kehidupan. 

Majas Paradoks

Merupakan majas perbandingan antara dua hal yang seolah saling bertentangan. Misalnya: Pak Joko itu kaya, tetapi miskin. Maksudnya kaya harta namun miskin ilmu, atau miskin hatinya sehingga enggan berbagi. 

Contoh lain majas paradoks adalah: Jogja itu kecil, tetapi besar. Maksudnya adalah secara wilayah kecil tapi namanya besar dan terkenal hingga mancanegara. Dalam setiap objek, selalu ada hal yang bisa dipertentangkan. Itulah paradoks.

Majas Metonimia

Adalah majas yang menggunakan nama orang atau merk atau ciri tertentu untuk menggambarkan sesuatu. Paling banyak adalah penggunaan merk yang terkenal di zamannya. Sehingga seolah tidak terpengaruh dengan merk produk yang sama.

Misalnya: Ayah minum Aqua setiap hari. Maksudnya adalah air minum Aqua. Meskipun yang diminum memiliki merk dagang lain, tetap Aqua yang disebut. Begitu juga merk Rinso untuk sabun, Garuda untuk pesawat, atau tolak angin untuk obat masuk angin jenis apapun. 

Majas ini juga bisa digunakan untuk mengungkap nama orang dengan ciri khas tertentu. Misalnya pada kalimat: Ia suka membaca Chairil Anwar sejak SMP. Maksudnya adalah untuk membaca karya Chairil Anwar.

Majas Ironi

Pelajaran mengenal jenis majas selalu menarik ketika membahas tentang majas ironi. Majas ini merupakan bentuk ungkapan sindiran. Sedikit lebih halus diksi yang digunakan dari majas sarkasme yang berisi sindiran kasar. 

Majas ini dapat digunakan sebagai ungkapan kemarahan tanpa membuat pendengarnya terluka. Contoh sederhana ketika menyuruh seseorang berangkat jam 9.  Sedangkan kerja sudah dimulai sejak jam 8. Paham kan apa maksudnya?

Majas Simile

Adalah majas yang memiliki ciri khas dengan penggunaan kata: seperti bagai, laksana, bak, dan sebagainya. Meskipun dua hal yang diperbandingkan tidak sama persis, keberadaan majas ini membuat keduanya terdengar mirip.

Misalnya pada kalimat: wajah Ida dan ibunya bak pinang dibelah dua. Atau pada kalimat: hatinya seperti kapas, putih bersih tanpa noda. Atau seperti kalimat: situasi yang dihadapi rentenir itu seperti telur di ujung tanduk.

Majas Litotes

Adalah majas yang digunakan utnuk melemahkan, merendahkan, atau menganggap sederhana ungkapan sebenarnya. Misalnya pada kalimat: Silakan mampir di gubug kami. 

Baca juga: Perilaku Penyebab Stroke

Kata gubug pada dasarnya adalah bermakna rumah, bukan gubug dalam artian bangunan reyot yang hampir rubuh. Begitu juga pada kalimat “Mohon maaf untuk bingkisan tak berharga ini”. Apakah bingkisannya benar-benar tidak berharga?Demikian ulsan singkat mengenal berbgai jenis majas. Selengkapnya pembahasan mengenai sastra Indonesia dapat dipelajari di situs Academia. Sumber informasi dan materi pelajaran terpercaya di Indonesia.

Komentar Dinonaktifkan pada Mengenal Jenis Majas Dalam Sastra Indonesia